Duduk di deretan kursi dari kayu ebony
sambil ku runtutkan pandangan mata fatamorgana,,,
tak terkecoh nyalak kereta yang berjalan dengan kaku,
sambil meninggalkan kepulan asap
yang meletakan aku pada awan di atas bumi,
tak tersentuh oleh panasnya matahari,,,
namun butiran-butiran air yang tak tersentuh mata,
perlahan tanpa ragu terus membumbung, berkumpul, menyatu,,
dan memaksa kaki ini menapak ke tanah,,,


nek ora napak, mabur?